Selasa, 26 Maret 2019

[2] Konservasi Arsitektur - Rumah Sakit PGI Cikini

Edit Posted by with No comments

Nama    : Yolla Ristyani Dewi
NPM      : 27315281
Kelas     : 4TB01
Matkul  : Konservasi Arsitektur
Dosen   : Dr. Ir. Agus Dharma., MT.



Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris yaitu Conservation yang terdiri atas kata con dan servare yang memiliki pengertian upaya memelihara apa yang kita punya namun secara bijaksana.
Dalam konteks luas Konservasi merupakan proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang terkandung dapat terjaga dengan baik meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai kondisi lokal.
Konservasi Arsitektur adalah Upaya pelestarian/pemeliharaan hal yang bersangkutan dengan dunia arsitektur, baik itu merupakan sebuah kawasan, maupun didalam sebuah gedung, dengan tujuan agar dapat melestarikan/memelihara bangunan yang utuh dapat dipertahankan.

1.                  Sejarah Rumah Sakit PGI Cikini



Rumah Sakit PGI Cikini berdiri pada 12 Januari 1898 sebagai RS Ratu Emma (Vereniging voor Ziekenverpleging Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini), RS Cikini didirikan oleh Ny. Adriana Josina de Graaf-Kooman, istri misionaris Belanda, dengan tujuan untuk merawat orang-orang sakit dari berbagai golongan masyarakat tanpa memandang kedudukan dan untuk semua suku, bangsa, dan agama.

Biaya pendirian rumah sakit diperoleh dari Ratu Emma, digunakan untuk membeli bekas rumah pelukis kenamaan Raden Saleh di Menteng (Huis van Raden Saleh). Nirin Ninkeulen dari Depok menjadi pribumi pertama yang bekerja sebagai tenaga medis di RS Ratu Emma. Rumah Sakit Ratu Emma berubah nama menjadi Rumah Sakit Tjikini pada 1 Agustus 1913.
Pada masa pendudukan Jepang, RS Cikini dijadikan Rumah Sakit Kaigun (Angkatan Laut Jepang). Pasca pendudukan Jepang (Agustus 1945 – Desember 1948), RS Tjikini dioperasikan oleh RAPWI dan kemudian DVG, hingga akhir 1948 RS Cikini dikembalikan pengelolaannya kepada pihak swasta dipimpin oleh R.F. Bozkelman.


Tahun 1957, pengelolaan Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini diserahkan kepada DGI (Dewan Gereja-gereja di Indonesia) dengan Prof. Dr. Joedono sebagai pimpinan sementara. Selanjutnya diangkat dr. H. Sinaga, sebagai direktur pribumi pertama RS Tjikini. Yayasan Stichting Medische Voorziening Koningen Emma Ziekenhuis Tjikini kemudian diubah namanya menjadi Yayasan Rumah Sakit DGI Tjikini. Pada 31 Maret 1989, sehubungan dengan perubahan nama DGI menjadi PGI, dan adanya ejaan Bahasa Indonesia yang disempurnakan, maka nama Yayasan RS DGI Tjikini disempurnakan menjadi Yayasan Kesehatan PGI Cikini.

2.                  Lokasi dan data fisik Rumah Sakit PGI Cikini
Rumah Sakit PGI Cikini terletak di Jalan Raden Saleh No.40, RT.12/RW.2, Cikini, Menteng, RT.12/RW.2, Cikini, Menteng, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10330. Rumah Sakit ini telah masuk dalam daftar penetapan cagar budaya nasional, dengan SK Menteri NoPM.13/PW.007/MKP/05, SK Gubernur No475 tahun 1993, dan SK Menteri No189/M/2017.

3.                  Karakter Spasial
Karakter spasial merupakan elemen yang membatasi sebuah ruang yang berkaitan dengan bangunan. Elemen yang dikaji dalam karakter spasial Rumah Sakit PGI Cikini terdiri dari:

      a.      Fungsi Ruang
Bangunan Rumah Sakit PGI Cikini yang merupakan bekas Rumah Raden Saleh, saat ini sebagian ruangannya difungsikan sebagai kantor pengelola rumah sakit. Pada bangunan juga terdapat ruangan yang sudah tak terpakai, mendominasi area lantai atas. Adanya ruangan non-fungsional tersebut dikarenakan rusak akibat bocor hingga membuat lantai-lantainya lapuk. Fungsi ruangnya terdiri dari beberapa jenis seperti kantor yayasan, kantor direksi, kantor keperawatan, kantor personalia, ruang rapat, ruang siaran, aula, ruang display dan ruang servis.
      b.      Hubungan Ruang
Ruang-ruang pada Rumah Sakit PGI Cikini saat ini didominasi oleh hubungan ruang yang saling berdampingan. Hubungan ruang dalam ruang yang terdapat pada bangunan merupakan hasil dari perubahan saat adanya penambahan ruangan. Beberapa pintu yang menghubungkan antar ruang kini tidak lagi difungsikan, sebagian dihalangi oleh perabot kantor dan sebagian ditutup dengan dinding.

      c.      Alur Sirkulasi
     Pola sirkulasi terdiri dari pola linear, radial dan sentral dengan sebagian besar pola yang ada merupakan pola linear. Beberapa pintu yang tidak difungsikan mempengaruhi pola sirkulasi bangunan saat ini.
d.     Orientasi Ruang
           Orientasi ruang berpusat ke aula dan koridor yang bersifat ruang bersama. Adanya beberapa bukaan yang kini tidak lagi difungsikan merupakan salah satu faktor perubahan orientasi pada bangunan.
4.                  Karakter Visual
Karakter visual merupakan karakter yang paling memberikan ciri khas dan citra sebuah bangunan. Elemen pembentuk karakter visual pada bangunan yang dikaji, ialah:

      a.      Bentuk Bangunan.
           Bentuk dasar dari bangunan ini merupakan gabungan dari geometri persegi dan lingkaran. Rumah Sakit PGI Cikini memiliki denah berbentuk menyilang dengan bentuk teras yang semi-circular. Bentuk denah tersebut merupakan tipikal bentuk denah katedral yang membentuk cross simetris dengan apse pada kapelnya.
          b.      Atap
Atap pada bangunan sebagian besar hasil renovasi, menghilangkan hampir seluruh ornamen yang menjadi ciri khas dari bangunan. Ornamen seperti finial, nok, parapet dan crocket telah hilang tergantikan dengan adanya penambahan atap baru. Penambahan tersebut mengakibatkan kerusakan pada atap seperti kebocoran yang berdampak ke bangunan.

            c.      Dinding
Komponen yang dapat ditemui pada dinding Rumah Sakit PGI Cikini seperti gevel, niche, moulding, buttress dan porte-cochère didominasi oleh gaya arsitektur gotik dengan campuran gaya klasik. Dekorasi pada dinding bangunan lebih banyak pada tampak depan bangunan maupun ruang publik seperti aula.
            
            d.      Baluster
Baluster atau pagar pembatas terdapat pada eksterior dan interior bangunan. Baluster pada eksterior bangunan dipengaruhi oleh gaya arsitektur klasik dengan bentuk spindle bergaya victorian. Newel post dari baluster eksterior saat ini dijadikan sebagai pedestal kolom ditambah banyaknya hiasan pada newel post yang telah hilang. Sementara baluster interior merupakan adaptasi gaya gotik terlihat dari bentuk dan ornamennya. Ornamen yang terdapat pada baluster interior berupa cusp yang membentuk trefoil head, quartefoil, fluer-de-lis dan sebagainya.
            
            e.      Pintu
        Pintu asli pada bangunan Rumah Sakit PGI Cikini (Eks Rumah Raden Saleh), memiliki bentuk melengkung pada bagian atasnya, baik berbentuk pointed arch maupun round arch. Pintu-pintu tersebut dilengkapi dengan aksesoris berupa hoodmould dan ornamen pada bagian ujungnya. Beberapa pintu memiliki muka yang berbeda pada sisi luar dan dalamnya. Sisi pintu yang menghadap ruang publik seperti aula cenderung memiliki hiasan dan ornamen yang detail dibanding sisi yang menghadap area privat. Detail ornamen yang dapat dijumpai pada pintu bangunan ini berupa trefoil, quartefoil, flame, mouchette dan sebagainya. Bentuk lengkung maupun bentuk pintu yang lancip serta ornamen yang ditemui pada bangunan didominasi oleh gaya arsitektur neo-gotik.

            f.      Jendela
Tidak jauh berbeda dengan karakter pintu, jendela asli pada bangunan memiliki bentuk pointed arch dengan dekorasi bentuk-bentuk gotik. Beberapa jendela telah mengalami perubahan berupa penambahan komponen adaptasi dari arsitektur kolonial. Penambahan ruang pada bangunan menjadikan beberapa posisi jendela berada di dalam ruangan sehingga tidak dapat berfungsi dengan maksimal. Pada area aula terdapat sebuah jendela yang berada pada plafon yang mulanya difungsikan sebagai skylight.

            g.      Kolom
Terdapat keberagaman jenis bentuk kolom pada bangunan, seperti kolom klaster berjenis corinthian, kolom tuscan, kolom lekukan besi tempa dan kolom kayu jepit. Kolom klaster dan kolom tuscan merupakan kolom asli pada bangunan yang dipengaruhi gaya arsitektur klasik. Adanya kolom penopang bagi atap tambahan yang dibuat dengan menggunakan newel post sebagai pedestal kolom.

5.                  Tinjauan Pelestarian
Hasil penilaian makna kultural pada variabel amatan kemudian diklasifikasikan sesuai dengan potensial kelasnya. Adapun potensial tersebut terbagi ke dalam potensial tinggi, potensial sedang dan potensial rendah dengan hasil sebagai berikut:
•          Potensial rendah (6-10) : 24 elemen
•          Potensial sedang (11-15) : 61 elemen
•          Potensial tinggi (16-18) : 33 elemen 

Total : 118 elemen

Apabila dipersentasekan, maka elemen bangunan yang memiliki potensial rendah sebanyak 20%, potensial sedang 52% dan potensial tinggi sebanyak 28% dari total keseluruhan 118 elemen yang dievaluasi. Berdasarkan ketiga jenis potensial bangunan, variabel dimasukkan ke dalam empat kelas pelestarian, arahan pelestarian untuk rekonstruksi 21%, rehabilitasi 24%, konservasi 35% dan preservasi 20%.

Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa hanya seperlima elemen bangunan yang benar-benar terjaga bentuk asli dan kondisinya yang masih terawat. Sementara elemen yang perlu dilakukan pemugaran dari teknik konservasi sepertiga dari keseluruhan elemen dan sisanya merupakan elemen-elemen rusak yang memerlukan perhatian lebih.

Beberapa elemen bangunan yang memiliki nilai potensial rendah disarankan untuk dilakukan pengembangan desain. Saran pengembangan desain tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan aspek keselarasan bentuk dengan elemen asli dari Rumah Sakit PGI Cikini, seperti penggunaan aksen hoodmould pada pintu dan jendela. Saran tersebut dimaksudkan untuk memberikan pertimbangan kepada pengelola bangunan untuk meningkatkan nilai kultural elemen-elemen yang minim tersebut.

6.                  Kesimpulan
Karakter spasial bangunan dapat terlihat dari bentuk denah dan susunan ruang-ruangnya. Hal yang menjadi kekurangan dari karakter spasial bangunan ialah sebagian dari ruangnya yang tidak lagi difungsikan karena kerusakan yang cukup parah pada elemen-elemen bangunannya. Adanya penambahan ruang pada bangunan berdampak bagi karakter spasialnya, seperti hubungan ruang, orientasi maupun sirkulasi dalam bangunan.

Karakter visual pada bangunan memiliki bermacam-macam ornamen yang menarik, memperkaya keindahan serta memperkuat citra bangunan. Pergantian periode masa serta kepemilikan menyisakan identitas yang khas bagi bangunan. Namun, tidak sedikit pula komponen-komponen bangunan yang hilang akibat pergantian kepemilikan tersebut. Selain itu, banyak elemen bangunan yang kondisi fisiknya perlu segera dilakukan perbaikan karena faktor umur dan kerusakan bangunan. Banyak elemen seperti lantai plafon serta dinding yang rusak sehingga ruang-ruang pada lantai 2 tidak difungsikan. Akibatnya pun berpengaruh terhadap hubungan ruang dan fungsi ruang pada karakter spasial bangunan.

Berdasarkan hasil evaluasi Rumah Sakit PGI Cikini, sebanyak 21% diarahkan untuk rekonstruksi, 24% untuk rehabilitasi, 35% untuk konservasi dan 20% untuk preservasi. Dari hasil tersebut dapat diketahui bahwa hanya seperlima elemen bangunan yang benar-benar terjaga bentuk aslinya dan kondisinya yang masih terawat. Sementara elemen yang perlu dilakukan pemugaran dari teknik konservasi sepertiga dari keseluruhan elemen dan sisanya merupakan elemen-elemen rusak yang memerlukan perhatian lebih.


Sumber:
https://kupdf.net/download/tugas-konservasi-arsitektur_59d64d8908bbc5835fd1214b_pdf
http://arsitektur.studentjournal.ub.ac.id/index.php/jma/article/view/491
https://seminar.iplbi.or.id/wp-content/uploads/2017/06/HERITAGE2017-A-355-358-Langkah-Awal-Konservasi-Kediaman-Raden-Saleh.pdf
https://cagarbudaya.kemdikbud.go.id/public/objek/detailcb/PO2015090300001/rumah-sakit-cikini-khusus-eks-rumah-raden-saleh

Senin, 11 Maret 2019

[1] Konservasi Arsitektur

Edit Posted by with No comments

Nama  : Yolla Ristyani Dewi
Kelas    : 4TB01
NPM    : 27315281
Matkul : Konservasi Arsitektur
Dosen  : Dr. Ir. Agus Dharma, MT.

KONSERVASI ARSITEKTUR

1.                  Pengertian Konservasi
Secara harfiah, konservasi berasal dari bahasa Inggris yaitu Conservation yang terdiri atas kata con dan servare yang memiliki pengertian upaya memelihara apa yang kita punya namun secara bijaksana.
Pengertian Konservasi menurut berbagai sumber:
a. Konservasi adalah segenap proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang dikandungnya terpelihara dengan baik (Piagam Burra, 1981).
b. Konservasi adalah pemeliharaan dan perlindungan terhadap sesuatu yang dilakukan secara teratur untuk mencegah kerusakan dan kemusnahan dengan cara pengawetan (Peter Salim dan Yenny Salim, 1991).
c. Konservasi itu sendiri merupakan berasal dari kata Conservation yang terdiri atas kata con (together) dan servare (keep/save) yang memiliki pengertian mengenai upaya memelihara apa yang kita punya (keep/save what you have), namun secara bijaksana (wise use). Ide ini dikemukakan oleh Theodore Roosevelt (1902) yang merupakan orang Amerika pertama yang mengemukakan tentang konsep konservasi.
d. Sedangkan menurut Rijksen (1981), konservasi merupakan suatu bentuk evolusi kultural dimana pada saat dulu, upaya konservasi lebih buruk daripada saat sekarang.

Dalam konteks luas Konservasi merupakan proses pengelolaan suatu tempat agar makna kultural yang terkandung dapat terjaga dengan baik meliputi seluruh kegiatan pemeliharaan sesuai kondisi lokal.

Konservasi Arsitektur adalah Upaya pelestarian / pemeliharaan hal yang bersangkutan dengan dunia arsitektur. baik itu merupakan sebuah kawasan ,maupun didalam sebuah gedung , dengan tujuan agar dapat melestarikan / memelihara bangunan yang utuh dapat dipertahankan.

2.        Sasaran Konservasi
·       Mengembalikan wajah dari obyek pelestarian
·       Memanfaatkan obyek pelestarian untuk menunjang kehidupan masa kini
·       Mengarahkan perkembangan masa kini yang diselaraskan dengan perencanaan masa lalu,
·       tercermin dalam obyek pelestarian
·       Menampilkan sejarah pertumbuhan lingkungan kota, dalam wujud fisik tiga dimensi.

3.        Ruang Lingkup Konservasi
Kategori obyek konservasi :
·       Lingkungan Alami (Natural Area)
·       Kota dan Desa (Town and Village)
·       Garis Cakrawala dan Koridor pandang (Skylines and View Corridor)
·       Kawasan (Districts)
·       Wajah Jalan (Street-scapes)
·       Bangunan (Buildings)
·       Benda dan Penggalan (Object and Fragments)

4.        Manfaat Konservasi
·       Memperkaya pengalaman visual
·       Memberi suasana permanen yang menyegarkan
·       Memberi kemanan psikologis
·       Mewariskan arsitektur
·       Asset komersial dalam kegiatan wisata internasional

5.                  Aspek Konservasi
·       Arsitektural
·       Historis
·       Simbolis

6.        Kriteria Konservasi
a.    Estetika
Bangunan-bangunan atau dari bagian kota yang dilestarikan karena mewakili prestasi khusus dalam suatu gaya sejarah tertentu.Tolak ukur estetika ini dikaitkan dengan nilai estetis dari arsitektonis: bentuk, tata ruang dan ornamennya.
b.    Kejamakan
Bangunan-bangunan atau bagian dari kota yang dilestarikan karena mewakili satu kelas atau jenis khusus bangunan yang cukup berperan. Penekanan pada karya arsitektur yang mewakili ragam atau jenis yang spesifik.
c.     Kelangkaan
Bangunan yang hanya satu dari jenisnya, atau merupakan contoh terakhir yang masih ada. Karya langka atau satu-satunya di dunia atau tidak dimiliki oleh daerah lain.
d.    Keistimewaan
Bangunan-bangunan ruang yang dilindungi karena memiliki keistimewaan, misalnya
yang tertinggi, tertua, terbesar pertama dan sebagainya
e.    Peranan Sejarah
Bangunan-bangunan dari lingkungan perkotaan yang merupakan lokasi-lokasi bagi peristiwa-peristiwa bersejarah yang penting untuk dilestarikan sebagai ikatan simbolis antara peristiwa terdahulu dan sekarang.
f.      Memperkuat Kawasan
Bangunan-bangunan dan di bagian kota yang karena investasi di dalamnya, akan mempengaruhi kawsan-kawasan di dekatnya, atau kehadiratnya bermakna untuk meningkatkan kualitas dan citra lingkungan sekitarnya.

7.                  Peran Arsitek Dalam Konservasi
a.    Internal:
·         Meningkatkan kesadaran di kalangan arsitek untuk mencintai dan mau memelihara
·         warisan budaya berupa kawasan dan bangunan bersejarah atau bernilai arsitektural tinggi.
·         Meningkatkan kemampuan serta penguasaan teknis terhadap jenis-jenis tindakan pemugaran kawasan atau bangunan, terutama teknik adaptive reuse
·         Melakukan penelitian serta dokumentasi atas kawasan atau bangunan yang perlu dilestarikan.

b.    Eksternal
·         Memberi masukan kepada Pemda mengenai kawasan-kawasan atau bangunan yang perlu dilestarikan dari segi arsitektur.
·         Membantu Pemda dalam menyusun Rencana Tata Ruang untuk keperluan pengembangan kawasan yang dilindungi (Urban Design Guidelines)
·         Membantu Pemda dalam menentukan fungsi atau penggunaan baru bangunan-bangunan bersejarah atau bernilai arsitektural tinggi yang fungsinya sudah tidak sesuai lagi (misalnya bekas pabrik atau gudang) serta mengusulkan bentuk konservasi arsitekturalnya.
·          Memberikan contoh-contoh keberhasilan proyek pemugaran yang dapat menumbuhkan keyakinan pengembang bahwa dengan mempertahankan identitas kawasan/bangunan bersejarah, pengembangan akan lebih memberikan daya tarik yang pada gilirannya akan lebih mendatangkan keuntungan finansial.

8.       Istilah-istilah pada konservasi
a.    Restorasi (dalam konteks lebih luas)
Kegiatan mengembalikan bentukan fisik suatu tempat kepada kondisi sebelumnya dengan menghilangkan tambahan-tambahan atau merakit kembali komponens eksisting tnap menggunakan material baru.

b.    Restorasi (dalam konteks terbatas)
Kegiatan pemugaran untuk mengembalikan bangunan dan lingkungan cagar budaya semirip mungkin ke bentuk asalnya berdasarkan data pendukung tentang bentuk arsitektur dan struktur pada keadaan asal tersebut dan agar persyaratan teknis bangunan terpenuhi. (Ref.UNESCO.PP. 36/2005).

c.     Preservasi (dalam konteks yang luas)
Kegiatan pemeliharaan bentukan fisik suatu tempat dalam kondisi eksisting dan memperlambat bentukan fisik tersebut dari proses kerusakan.

d.    Preservasi (dalam konteks yang terbatas)
Bagian dari perawatan dan pemeliharaan yang intinya adalah mempertahankan keadaan sekarang dari bangunan dan lingkungan cagar budaya agar keandalan kelaikan fungsinya terjaga baik (Ref. UNESCO.PP. 36/2005).

e.    Konservasi (dalam konteks yang luas)
Semua proses pengelolaan suatu tempat hingga terjaga signifikasi budayanya. Hal ini termasuk pemeliharaan dan mungkin (karena kondisinya) termasuk tindakan preservasi, restorasi, rekonstruksi, konsoilidasi serta revitalisasi. Biasanya kegiatan ini merupakan kombinasi dari beberapa tindakan tersebut.

f.      Konservasi (dalam konteks terbatas)
Dari bangunan dan lingkungan ialah upaya perbaikan dalam rangka pemugaran yang menitikberatkan pada pembersihan dan pengawasan bahan yang digunakan sebagai kontsruksi bangunan, agar persyaratan teknis bangunan terpenuhi. (Ref. UNESCO.PP. 36/2005).

g.    Rekonstruksi
Kegiatan pemugaran untuk membangun kembali dan memperbaiki sekaurat mungkin bangunan dan lingkungan yang hancur akibat bencana alam, bencana lainnya, rusak akibat terbengkalai atau keharusan pindah lokasi karenasalah satu sebab yang darurat, dengan menggunakan bahan yang tersisa atau terselamatkan dengan penambahan bahan bangunan baru  dan menjadikan bangunan tersebut laik fungsi dan memenuhi persyaratan teknis. (Ref. UNESCO.PP. 36/2005).

h.    Konsolidasi
Kegiatan pemugaran yang menitikberatkan pada pekerjaan memperkuat, memperkokoh struktur yang rusak atau melemah secara umum agar persyaratan teknis banguna terpenuhi dan bangunan tetap laik fungsi. Konsolidasi bangunan dapat juga disebut dengan istilah stabilisasi kalau bagian struktur yang rusak atau melemah bersifat membahayakan terhadap kekuatan struktur.

i.      Revitalisasi
Kegiatan pemugaran yang bersasaran untuk mendapatkan nilai tambah yang optimal secara ekonomi, sosial, dan budaya dalam pemanfaatan bangunan dan lingkungan cagar budaya dan dapat sebagai bagian dari revitalisasi kawasan kota lama untuk mencegah hilangnya aset-aset kota yang bernilai sejarah karena kawasan tersebut mengalami penurunan produktivitas.

j.      Pemugaran
Kegiatan memperbaiki atau memulihkan kembali bangunan gedung dan lingkungan cagar budaya ke bentuk aslinya dan dapat mencakup pekerjaan perbaikan struktur yang bisa dipertanggungjawabkan dari segi arkeologis, histories dan teknis. (Ref. PP.36/2005). Kegiatan pemulihan arsietktur bangunan gedung dan lingkungan cagar budaya yang disamping perbaikan kondisi fisiknya juga demi pemanfaatannya secara fungsional yang memenuhi persyaratan keandalan bangunan.

9.        Contoh Studi Kasus Konservasi Arsitektur – Konservasi Santa Croce di Florence, Italia.
Gerakan revolusi menyebabkan reaksi yang kuat juga di Italia dalam bentuk Counter Reformasi, yang dimulai pada 1530-an dan secara bertahap datang untuk mempengaruhi perubahan gereja yang ada bangunan mengikuti ‘Pedoman’ dari Dewan Trent setelah tahun 1563.

Fasad Lama Santa Croce

Kebutuhan untuk mereformasi rencana gereja telah ada sebelumnya, tapi sekarang tindakan itu diambil lebih tegas, dan dampaknya dalam renovasi gereja abad pertengahan sebenarnya dapat dilihat sebanding dengan apa yang terjadi kemudian di negara-negara utara, terutama di Inggris selama abad kedelapan belas. Interior yang membuka, rood screen (dinding pemisah antara tempat duduk jemaat dengan kapel) dan hambatan lainnya telah dihapus dan kapel diletakkan ulang menjadi salah satu perubahan terbesar dalam renovasi gereja di negara-negara Eropa, contohnya Gereja Santa Croce yang direnovasi oleh Giorgio Vasari pada saat itu.
Denah Sebelum Perubahan

Denah Sesudah Perubahan


Perawatan dan pemulihan Santa Croce tetap berlangsung hingga abad ke – 20. Pada tahun 2005, perawatan pada fasad gereja tersebut dilakukan dengan tetap mempertahankan keaslian fasad pada bangunan.


Kemudian pada tahun 2008, pembersihan dan perawatan jendela kaca patri di kapel utama yaitu dengan membersihkan dan menghilangkan semua noda yang ada pada jendela dan mengembalikan warna pada jendela kaca patri tersebut sehingga terlihat seperti baru.

Pada 2011, peremajaan pada bagian kapel yaitu lukisan dinding / mural “Stories of The True Cross” karya Agnolo Gaddi.








 Sumber
https://kupdf.net/download/tugas-konservasi-arsitektur_59d64d8908bbc5835fd1214b_pdf
https://wikimelo.wordpress.com/2016/08/04/pengertian-konservasi-arsitektur/
https://finifio.wordpress.com/2016/06/04/apa-itu-konservasi-arsitektur/